8 years

Delapan tahun berlalu…

Sewindu…

2922 hari berlalu…

No! I’m not talking about Tulus’ song. Really, no…

Setelah selama itu saya memupuk delusi, ternyata semesta ini punya cara unik untuk mengajak saya bercanda dengannya. Setelah beberapa musim berlalu, bisa-bisanya dunia ini menyajikan drama komedi romantis di dalam panggung drama pribadi milik saya.

Dia datang tanpa dijemput. Namun entah, apakah dia akan pulang tanpa diantar juga?

Bukan pangeran berkuda putih, hanyalah laki-laki mengendarai delman.

Matanya tidak biru, hitam selayaknya manusia normal. Sorotnya tidak dingin dan menyejukan, cenderung nakal dan jenaka.

Sampai jumpa badan tinggi tegap ala tentara. Miliknya hanya standard dengan tambahan angin saat perut kembung.

Lelucon apa ini? Delapan tahun berlalu, mengapa yang ini mendatangkan kupu-kupu? Hati kecil saya berkata, “Masih bagus kupu-kupu… Bukan ngengat atau laron.”

Apa bagusnya kamu? Sampai bisa-bisanya saya nyaman sama kamu?

Nampaknya salah kalau saya bertanya pada kamu. Harusnya saya bertanya pada diri saya sendiri, mengapa saya nyaman sama dia?

Aneh ya?

Delapan tahun berlalu. Semoga ini hanya lelucon. Penting buat kita untuk tertawa, supaya hidup ini tidak serius-serius amat. Kata orang, terlalu serius bikin cepat mati. Saya belum mau mati. Saya masih mau hidup seribu tahun lagi.

Terima kasih sudah mau membaca monolog saya.

 

Menertawakan Hidup Lewat Ngenest Movie (Review)

ngenest-the-movie

Alasan pertama nonton film ini adalah Ernest Prakasa. Ernest adalah salah satu stand up comedian favorit saya. Kenapa? Karena dia selalu membawakan materi stand up yang erat juga hubungannya dengan saya. Yak, diskriminasi ras. Mungkin diskriminasi yang saya rasakan tidak semenyedihkan yang dialami oleh seorang Ernest Prakasa. Tetapi Ernest mengajarkan saya untuk menertawakan masalah hidup sebagai keturunan etnis Tionghoa.

Dengan membawa tagline Kadang Hidup Perlu Ditertawakan, film ini disadur dari tiga buah buku karya Ernest sendiri yang berjudul sama. Menceritakan tentang kehidupan seorang Ernest Prakasa, yang sedari lahir sudah bermata minimalis (Terima kasih Tuhan, walau saya keturunan Tionghoa, mata saya masih lumayan belo) dan kebetulan lahir di masa orde baru. Bagi Ernest, diskriminasi sudah menjadi santapan sehari-hari dalam kehidupannya. Panggilan, “Hey Cina!” dengan segala bully-bully dari teman sekolah dan lingkungannya menjadi suatu kenangan buruk yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Ernest muda (Kevin Anggara) berusaha untuk berbaur dengan teman-temannya. Berbagai cara ia lakukan, walaupun sahabatnya yang bernama Patrick (mudanya diperankan oleh Brandon Salim) berusaha untuk mengingatkan, percuma saja berteman dengan non-Tionghoa, toh tidak membuat Ernest lepas dari bully-bully temannya. Sampai pada sebuah kesimpulan sederhana dari Ernest, jika sudah dewasa kelak ia harus menikah dengan seorang perempuan pribumi. Pada bagian ini saya sangat memahami semburan makanan yang keluar dari mulut papa Ernest (Ferry Salim). Kalau adik laki-laki saya mengatakan hal serupa saat makan malam, papa saya juga mungkin akan melakukan hal yang sama. LOL

Saat kuliah di Bandung, Ernest berkenalan dengan seorang perempuan bernama Meira (Lala Karmela) yang ditemuinya di tempat les bahasa Mandarin. Ernest yang tadinya les mandarin dengan malas-malasan, seperti punya semangat untuk les. Yah karena Meira. Singkatnya, mereka akhirnya dekat, berpacaran setelah Ernest melalui ujian-ujian dari papa Meira (Budi Dalton), lalu menikah. Keduanya menikah dengan adat Tionghoa untuk menyenangkan hati orang tua Ernest. Pernikahan dengan nuansa merah-merah plus Om Hengky yang menyanyikan lagu Yue Liang Tai Piao Wo De Xing. Sangat Cina. Demi apa, saya tertawa melihatnya. Sudah hampir dua tahun saya tidak dengar lagu itu, semenjak tinggal jauh dari orang tua karena kerja. Hahaha…

Lantas masalah selesai? Ernest sudah berhasil menikah dengan perempuan pribumi seperti yang ia inginkan. Ternyata tidak. Menikah artinya siap menjadi orang tua. Bayangan kalau nanti anaknya akan berwajah oriental sama seperti dirinya, lalu akan dibully teman-temannya, membuat Ernest merasa tidak siap untuk punya anak. Sementara Meira yang awalnya oke-oke saja, lama-lama merasa, there’s something wrong with their marriage. Kapan Ernest siap? Mengapa seolah Ernest menghindar setiap ditanya soal anak? Sampai karena sebuah cekcok yang lumayan dramatis, Ernest memutuskan untuk, Oke kita punya anak.

Selama kehamilan Meira, Ernest masih dirundung kekhawatiran yang bertubi-tubi. Sampai terbawa mimpi segala. Hingga saat Meira mau melahirkan dan Ernest entah di mana, Patrick (Morgan Oey) menemukan Ernest berusaha menenangkan diri di tempat mereka biasa sembunyi kalau dibully. Ernest yang sadar, langsung berlari menuju Rumah Sakit menemui Meira yang mau melahirkan.

Berbeda dengan film komedi ala Raditya Dika yang mengusung tema percintaan kaum young adult, film pertama yang disutradarai sendiri oleh Ernest Prakasa ini mengusung isu sosial. Ernest membalut traumatis dia akan diskriminasi ras yang dialaminya dengan baluran komedi. Membuat film ini dibilang ringan, yaaahh… nggak ringan-ringan amat. Tetapi dibilang berat, juga nggak berat. Semua yang ditampilkan di sana ada di sekeliling kita. Hanya entah, penonton sadar atau tidak kalau semua yang di film Ngenest ada di sekeliling mereka.

Film ini punya kesan khusus buat saya. Saya tertawa pahit di beberapa bagian, tetapi saya juga ikut menitikan air mata di beberapa hal. Salah satunya ketakutan Ernest kalau anaknya nanti jadi bahan bully-an. Ernest menuangkan perasaan khawatir seorang calon ayah lewat ekspresinya, sampai membuat saya ikut sedih. (yah, mungkin memang saya saja yang baperan…)

Ernest dan pemain lainnya membawakan karakter mereka dengan baik. Ernest sendiri tidak usah ditanya. Memainkan karakternya sendiri tentu haruslah excellent. Lala Karmela yang justru mendapatkan acungan jempol karena berhasil membawakan karakter istri Ernest, Meira, dengan sangat baik. Chemistry nya bagus sekali, sampai saya kadang-kadang bertanya, “Itu istrinya Ernest apa nggak cemburu?”. Morgan Oey (Uuuhh, saya suka banget sama yang ini sejak dia di Smash)  juga berhasil membawakan karakter Patrick dengan bagus. Filosofi tokai yang tak terlupakan. Ewwh tapi yah, boleh lah dijadikan filosofi. Chemistry dua sahabat antara Ernest dan Morgan terlihat real. Obrolan-obrolan khas orang Tionghoa yang suka menggunakan kata ‘lu orang’ dan ‘dia orang’ membuat keduanya terlihat, yahhh… cina banget. Saya jadi kangen teman-teman SD saya di komplek dulu. Surprisingly, Morgan yang biasanya nampak cool ternyata lumayan bisa melucu.

Kehadiran Arie Kriting, Fico, Ge Pamungkas, Awwe, dan Adjis biarpun cuma beberapa saat di beberapa scene, tetap saja bikin ngakak. Tetapi favorit saya adalah Mukhadly Acho, si pemeran dokter kandungan. Dia diam saja, saya tertawa. Pas bersuara, saya lebih kencang tertawanya. Belum lagi istri Ernest dan kedua anaknya, Sky dan Snow juga muncul di film ini dalam scene imlek. Sky bagus sekali memainkan cameo sebagai keponakan Ernest. Saya tertawa melihat dia berkata, “Ih, kiu kiue Ernest pelit, masak angpaonya cuma ceban?” LOL again.

Overall, film ini memang tidak sempurna, tetapi yang jelas menghibur sekali. Saya senang  akhirnya ada juga film Indonesia yang menceritakan isi hati warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Ernest is a good actor. Saya harap Ernest Prakasa terus berkarya, tetap menjadi stand up comedian dengan bit-bit yang lebih cerdas dan menghibur, dan selalu rendah hati.

From 5 stars, I give 3.5 stars to this movie.

Filmnya masih ada kok di beberapa bioskop. Review saya sih jauhhhh sekali dari sempurna, makanya nonton langsung filmnya di bioskop.

Hidup Cina!

 

Sunshine Becomes You (Review)

 

poster-sunshines-becomes-u

walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mecintaimu. sepenuh hatiku. – Mia Clark

Saya menonton film ini beberapa hari setelah tanggal release-nya di bioskop, tetapi baru sempat mem-posting review-nya saat ini.

Alasan saya semangat  menonton film ini adalah :

  1. Saya sudah membaca novelnya dan suka pada ceritanya. Ilana Tan never failed.
  2. Ada Herjunot Ali dan Boy Williams untuk dipandang. (I’m a normal girl who loves hot guys)
  3. Penasaran bagaimana seorang Nabilah JKT48 memainkan peran yang menurut saya terlalu dewasa untuk dia perankan.

Sunshine Becomes You digarap oleh rumah produksi Hitmaker Studios, bercerita tentang kisah cinta antara Mia Clark dan Alex Hirano.

Diceritakan bahwa Mia Clark (Nabilah JKT48) adalah seorang penari balet kontemporer yang memberikan hidupnya untuk menari. Sementara Alex Hirano (Herjunot Ali) adalah seorang pria berdarah campuran Jepang Indonesia yang merupakan seorang pianis berbakat yang sangat terkenal. Adik Alex, yaitu Ray Hirano (Boy William) adalah seorang B-Boy yang sama-sama bekerja di sekolah tari, tempat Mia juga bekerja. Ray menyukai Mia, sementara Mia sepertinya tahu tapi hanya menganggap Ray sebagai teman.

Dalam suatu kesempatan, Mia tidak sengaja melakukan suatu hal bodoh yang tanpa sengaja malah melukai tangan Alex. Alex yang memiliki tempramen dingin, diambah lagi dengan hari konsernya yang semakin dekat, menjadi sangat marah dan terganggu karena tangannya patah. Otomatis, Alex harus membatalkan konsernya.

Diserang rasa bersalah, Mia menawarkan diri untuk menjadi asisten Alex sampai laki-laki itu sembuh. Awalnya ditolak dengan judes, akhirnya Alex bersedia menerima pertolongan Mia.

Singkat cerita, karena sering menghabiskan waktu bersama-sama, Alex dan Mia semakin mengenal satu sama lain dan jatuh cinta. (Yeah, it’s cliche. What do you expect from romantic movie?)

Tetapi sayangnya, penyakit jantung Mia memisahkan mereka berdua di akhir cerita.

Yah, itu sekilas tentang ceritanya. Kalau saya terangkan lebih detail, saya khawatir sampai nanti malam juga tidak selesai.

Novelnya membuat saya lumayan baper sampai ending. So, saya berharap film-nya juga akan bikin saya baper. Tetapi sayang, ternyata film-nya gagal bikin saya baper. Banyak hal yang mengganggu.

Plot nya hanya fokus pada romantisme. Junot, Boy dan Nabilah tidak terlalu menunjukan karakterisasi peran yang mereka mainkan. Dikatakan mereka berlatih 3 bulan untuk jadi pianis, penari balet dan B-Boy. Herjunot Ali sebagai Alex Hirano. Ketrampilannya bermain piano kurang ditonjolkan. Padahal Alex Hirano adalah seorang pianis terkenal. Nabilah sebagai Mia Clark. So far pun saya tidak merasakan jiwa dari tarian yang ditarikannya, agak kontradiktif dengan apa yang dikatakan karakternya, Menari adalah hidup saya.  Boy William sebagai Ray Hirano. Penampilannya menjadi B-Boy bahkan tidak sampai sekian menit. Saya malah lebih terpukau pada penampilannya menari bersama Nabilah di scene saat pesta Dee Black. Itupun tarian yang tidak menonjolkan kemampuan B-Boy. Buat apa dong latihan 3 bulan?

But, what can I expect from actor and actress who only trained in 3 months? 

Make-up Nabilah yang terlalu menor. Seriously, menor. Bahkan saya bisa melihat gumpalan lipstik di permukaan bibirnya. Nabilah masih sangat muda dan cantik dengan wajahnya yang di make-up tipis saat bersama kawan-kawan JKT48-nya. Tetapi di sini, oh… nggak banget.

Nabilah terlalu, what should I say yah? “berisi” untuk memerankan seorang penari balet. Yah, walaupun balet kontemporer. Tetapi penari balet pada umumnya bertubuh kecil dan cenderung kurang berisi.

Di antara semua film yang diperankan Herjunot Ali, mulai dari 5cm, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sampai yang sebelum ini, Supernova, karakternya di film ini adalah yang paling amat biasa. Walau memang, Junot selalu berhasil membuat saya teriris dengan adegan menangisnya.

Kesimpulan yang terlalu basi untuk hubungan Ray dan Lucie (Annabella Jusuf). Di awal cerita, Ray diceritakan jatuh hati setengah mati dengan Mia. Sampai dia mengetahui bahwa kakaknya juga jatuh hati pada Mia, Ray tetap ngotot berusaha memenangkan hati Mia. Di tengah cerita saya sudah mencium aroma, AAhhh… ini endingnya pasti Ray dan Lucie nihh… Tetapi saya adalah penonton yang sangat menyukai ending yang plot twist alias tidak terduga. Karena sudah diduga dan agak “basi” juga sih, seolah biar Ray itu nggak kasihan-kasihan amat, saya kurang suka dengan cerita Ray dan Lucie. Seingat saya pun, di novel tidak ada tertulis hal ini. Entah saya yang lupa dengan isi novelnya, atau ini gimmick dari sutradara dan penulis skenarionnya. Entah.

Tetapi bukan berarti film ini jelek sekali. Ada juga yang saya suka di film ini.

Karakternya berbicara dalam bahasa Inggris, menyesuaikan dengan setting-nya yang mengambil tempat di New York.

Tetapi yang menarik perhatian saya, yah cuma itu.

Menurut saya, film ini belum bisa dibilang sukses. Tetapi saya tetap menghargainya sebagai karya anak bangsa. Lagipula yang menonton juga lumayan banyak. Semoga kedepannya, Hitmaker Studios bisa memproduksi film yang lebih baik lagi.

Dari 5 bintang, saya hanya bisa memberikan 2 bintang untuk film ini.

^^

Di mana pun dia berada. Dan kuharap dia tahu bahwa selama aku masih bernafas, aku akan selalu mencintainya. Sepenuh hatiku. Selamanya. -Alex Hirano

Hello again, and Hello 2016!

Hello,

It’s been two years since I never touch this blog. I’m so busy with my writing project which… never complete ’till the end. Seriously! Sampai saya seringkali mempertanyakan, “Sebenarnya gue pantas nggak sih nyebut diri gue sebagai writer wanna be?

Dua tahun berlalu sejak saya menulis, apa itu passion? Dan terakhir saya menulis tentang awal tahun adalah saat tahun 2013. Time flies so fast. Banyak yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini. Semua yang terjadi, membuat hidup saya serasa jungkir balik. Terkadang hidup membuat saya merasa bahagiaaa sekali, lalu dalam hitungan jam, semua bisa saja berubah menjadi sediiihh sekali.

Dimulai dari mama saya yang divonis menderita kanker payudara di akhir tahun 2014 dan harus menjalani operasi pengangkatan payudara. Setahun lebih kami sekeluarga bertahan untuk sama-sama mendukung mama. Puji Tuhan, dengan semua yang harus dijalani, pada September 2015 kemarin, semua prosedur pengobatan rutin sudah selesai. Mama hanya perlu kontrol beberapa bulan sekali.

Kemudian masalah lain terjadi. Papa diberhentikan kerja, yang membuat keluarga kami seperti berada dalam titik rendah kehidupan kami. Tidak ada pemasukan, hanya bergantung pada kebaikan hati keluarga besar mama saya. Tetapi sekali lagi, Puji Tuhan semua masih bisa kami lewati.

Lalu saya, yang mulai merasa bahwa saya harus berada di dekat orang tua. Saya yang juga merasa bahwa perlu perubahan besar dalam diri saya, agar saya bisa tampil menjadi orang yang terus lebih baik lagi. Pemikiran panjang dan mengeraskan mental, saya pun belajar merendahkan ego saya untuk mendengarkan kritik dan berkorban untuk keluarga. Tetapi lagi-lagi, Puji Tuhan semua bisa saya lalui.

2015 memang bukan tahun yang terbaik, tetapi 2015 mengajarkan saya banyak hal. Menempa saya sehingga saya bisa jadi seperti sekarang.

2016, saya menyebutnya sebagai tahun penuh harapan. Perubahan besar akan terjadi. Banyak hal yang saya nantikan untuk terjadi.

Tahun ini saya akan memasuki usia 25. Sebuah pertanda bahwa saya sudah tidak bisa lagi bertingkah egois layaknya anak-anak yang tidak memiliki tanggung jawab. Sudah seharusnya saya melakukan segala sesuatu dengan pemikiran yang lebih matang. Waktunya juga bagi saya untuk belajar, perlahan mengambil alih tugas orang tua pada kedua adik saya.

Tahun ini juga, adik kedua saya akan lulus sarjana strata 1. Waktu berlalu cepat, adik kecil saya bukan lagi si anak laki-laki penggemar doraemon dan pesawat terbang. Soon, he’ll graduate from university sambil membawa gelar sarjana ekonomi di belakang namanya. Semoga tidak ada halangan merintangi. Amen for that.

Tahun ini juga, setelah pemikiran panjang hampir setahun lamanya. Saya memutuskan lagi-lagi kembali ke Semarang. Dengan segala penghitungan yang matang, beberapa pengorbanan, dan harapan yang lebih besar. Orang tua saya butuh saya. Mungkin ini satu-satunya cara saya menyenangkan hati kedua pahlawan yang telah membesarkan saya dengan kasih mereka, dengan keringat dan darah mereka. Sekali lagi saya harus memulai semuanya dari nol. Artinya saya akan pindah pekerjaan dan meninggalkan murid-murid saya yang saya sangat sayangi.

Tetapi tidak apa-apa. Murid saya akan mendapatkan guru lain yang lebih baik dari saya. Sedangkan orang tua saya tak bisa mendapatkan pengganti anak sulung yang mereka ingin ada di dekat mereka.

2016 adalah tahun yang penuh harapan. Iya, saya berharap Tuhan masih mau memakai saya untuk bekerja sebagai guru di Semarang. Semoga Tuhan masih berkenan agar ilmu yang pernah saya pelajari, boleh diterima untuk anak-anak murid di Semarang nanti, siapapun kalian.

Hello 2016, like what other people said in common, please be nice to us…^^

Happy New Year!

passion

Saya tidak tahu apakah orang seperti saya pantas menulis sesuatu tentang passion? Sementara sering sekali saya mendengar beberapa orang dekat saya mengatakan “Tahu apa sih kamu soal passion, Janet?” berulang kali. Saya yang pengecut ini selalu merasa tidak pantas menyatakan jawaban saya pada orang-orang yang hidupnya jauh lebih lama daripada saya ini. Saya minim pengalaman, usia saya jauh lebih muda daripada mereka. Maka itu, daripada menjawab saya lebih memilih memendam gundah saya sendiri.

Namun lama kelamaan, tersiksa juga saya oleh tekanan dari pertanyaan ini. Karena satu persatu dari mereka mulai menganggap saya, ‘percuma pintar tapi hidupnya tak punya arah’. Bahkan ada juga yang mengatai saya, ‘pintar tapi kalau banyak maunya itu yah percuma. Keberatan mimpi’. Sakit juga dikatai seperti itu.

Biarlah saya menulis jawaban saya tentang ‘apa passion kamu?’ di sini.

So, what is passion? Passion is a term applied to a very strong feeling about person or thing. Passion is an intense emotion compelling, enthusiasm, or desire for anything. (source : wikipedia)

Dalam sebuah blog yang pernah saya baca, penulisnya mengatakan bahwa passion adalah segala sesuatu dimana kita bersedia mengorbankan sesuatu demi mencapai hal itu. Passion adalah sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas tanpa paksaan. Passion adalah sesuatu yang kita kerjakan tanpa memikirkan untung dan ruginya. Passion adalah segala sesuatu yang kita sukai, yang dapat kita kerjakan sampai terkadang lupa waktu. Passion is the energy that comes from bringing more you into what you do.

And back to the main question, “what is your passion, Janet?”

Dalam hidup saya, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pemikiran saya, saya menyadari ada dua passion terbesar dalam hidup saya. Menulis dan mengajar.

Pernah suatu saat saya memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan tentang passion dari seorang saudara dengan jawaban ini. Lalu yang kembali saya terima adalah pernyataan yang membuat saya jadi berkecil hati. “Passion kayak begitu gak akan buat kamu jadi sukses.”

Mungkin saudara satu ini tidak tahu bahwa salah satu makna dari passion adalah sesuatu yang kita kerjakan tanpa memikirkan untung dan ruginya. Sukses itu dari doa dan hasil kerja keras, dan tidak ditentukan oleh manusia. Saya hanya ingin mengerjakan sesuatu yang saya suka dan mampu saya kerjakan dengan sepenuh hati. Karena hidup ini sendiri sudah terlalu berat dengan hal-hal yang tak terduga, saya tidak mau membuatnya tambah berat dengan mengerjakan semua hal yang bukan passion saya. Walau terkadang saya harus terpaksa melakukannya demi tuntutan.

Sudah sering saya ceritakan tentang passion saya menulis di tempat ini. Biarkan hari ini saya menulis tentang passion saya yang kedua, mengajar.

Sejak awal saya kuliah, saya bercita-cita jadi guru. Cita-cita yang tidak diiyakan oleh ayah saya karena beliau tidak percaya saya mampu sabar dalam mengajar. Karena menjadi guru bukan hanya perkara mengajarkan sesuatu dan selesai begitu saja, tetapi mengajarkan sesuatu lalu memastikan bahwa yang kamu ajarkan dapat mengena pada yang diajar. Tapi saya senang berbagi ilmu, senang menceritakan segala hal menarik tentang pengetahuan yang saya tahu kepada yang tidak tahu. Lebih senang lagi kalau dapat bertukar ilmu. Saya berharap suatu hari saya dapat menjadi dosen.

Lalu mudahkah menuju cita-cita?

Saya pikir dengan nilai kelulusan tinggi segalanya akan dimudahkan. Ternyata tidak.

Berulang kali saya ganti pekerjaan. Mendapatkan teman-teman dari berbagai profesi, merasakan pemimpin yang baik bahkan yang sangat tidak baik. Namun selama itu tadi, bukan guru profesi saya. Berulang kali CV saya ditolak oleh sekolah. Menjadi guru privat saja berulang kali tidak dipercaya kemampuannya oleh orang tua murid. Menurut mereka saya cupu, belum berpengalaman, dan masih ingusan. Passion saja tidak cukup membawa saya pada pekerjaan yang saya inginkan. Jadilah saya berulang kali pindah pekerjaan, belajar suatu hal yang asing dan baru, berkali-kali menyesuaikan diri dengan tempat baru, dan dua kali mendapat bos yang tidak bijak.

Tapi Tuhan baik.

One day I got an offer to teach English in a school, a place where I work now. This is not a big school, even not as famous as some school where some celebrities studied on it. It’s not an international school. It’s a little school with such a lovely kids learn on it. Even though these kids are lovely, but it’s not an easy job to teach them. Saya harus mengajar Bahasa Inggris kepada anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang masih belajar ABC dan berhitung dasar, serta sama sekali minim pengetahuan tentang Bahasa Inggris. Tidak sekali dua kali saya mati gaya, bahkan dikritik oleh atasan saya, but it’s fun to work with kids. Saya tidak hanya mengajar tetapi dituntut untuk belajar. Seringkali sepulang kerja saya mencari tahu di internet atau bahkan berdiskusi dengan atasan tentang metode mengajar yang baik. Bohong kalau saya tidak lelah. Seringkali saya lelah, bahkan rindu rumah, karena kali ini saya bekerja di sebuah daerah di kota Bekasi, yang jauh dari rumah saya di Semarang. Bahkan untuk ke rumah saudara di Jakarta saja butuh waktu 1,5 jam kalau tidak macet.

Tidak hanya PAUD, saya juga harus mengajar anak SD yang kepribadiannya bermacam-macam. Mengajar anak yang manis dan pintar itu mudah, bagaimana dengan yang sudah tidak pintar, aktif bukan main pula. If I have no passion in this job, probably I gave up since the first week I came to this school. Namun kesulitan ini saya jadikan tantangan dan pembelajaran. Seperti rumus matematika yang sulit, sesulit apapun pasti ada jalan keluarnya. With a big faith that one day probably some of these kids maybe turn into such a great person is a spirit for me everytime I have to teach them. Bersyukur pula saya mendapat rekan kerja yang saling menguatkan, yang tak lelah mengingatkan saya bahwa awali sesuatu dengan berdoa dan akhirilah dengan bersyukur, maka segala sesuatu yang kau kerjakan akan terasa lebih ringan.

This is my passion, Sir… Maam…

Dari anak-anak ini saya belajar untuk hidup dengan tidak mempersoalkan hal-hal yang tidak penting. From these kids I got a little happiness by just seeing they are laughing, running, playing or saying something random innocently.

These are the pictures of my passion number 2 :

Look at how happy these kids running around…

Listening the explanation from Mr. Postman in the tour to Post Office

Listening the explanation from Mr. Postman in the tour to Post Office

 

How lovely they are in those colorful raincoat, posing with their home base teachers.

How lovely they are in those colorful raincoat, posing with their home base teachers.

giving the best pose with their home base teacher.

giving the best pose with their home base teacher.

Paying full attention while doing experiment about water

Paying full attention while doing experiment about water

These are Ovelt, Chia, Jovanca, and Chiquitita. (From left to right) Aren't they lovely? Their parents must be blessed having them as their child. Such nice and sweet kids...

These are Ovelt, Chia, Jovanca, and Chiquitita. (From left to right) Aren’t they lovely? Their parents must be blessed having them as their child. Such nice and sweet kids…

This is when the event of Superbook. Our kids are so happy after watching the story about Jonah in the Whale's Belly. They are so exciting when Gizmo is coming out to greet them...

This is when the event of Superbook. Our kids are so happy after watching the story about Jonah in the Whale’s Belly. They are so exciting when Gizmo is coming out to greet them…

This is what I called as passion. How about you?

Love,

Janet.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

138433067832699_300x430

Baiklah! Saya akui ini adalah late post yang amat sangat kelewatan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu, namun saya baru mem-postingnya sekarang. Maafkan saya :p

Jika anda belum tahu, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diangkat dari novel berjudul sama karya Haji Abdul Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. Walaupun dari yang saya baca, novel ini mendapat tuduhan plagiat dari sejumlah novel asing, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berhasil menggambarkan dengan apik kondisi sosial masyarakat Minangkabau kala itu. Mungkin itu sebabnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dianggap sebagai karya terbaik dari Buya Hamka.

Dari sejumlah karya yang pernah beliau ciptakan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu-satunya yang pernah saya baca dan begitu membekas dalam ingatan saya. Karena itulah, begitu tahu akan difilmkan, saya sangat semangat menanti filmnya.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah film adaptasi novel Buya Hamka kedua yang saya tonton setelah Di Bawah Lindungan Kaabah (2011). Sama-sama diperankan oleh Herjunot Ali (Awww!) yang kali ini beradu peran dengan Reza Rahardian (Awwww lagi!) dan Pevita Pearce, saya harus katakan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck lebih berhasil menyuguhkan kualitas penceritaan yang lebih baik daripada Di Bawah Lindungan Kaabah. Menurut saya, penulis naskah ceritanya berhasil merangkum dengan baik seluruh esensi cerita dari novel ke dalam alur cerita yang padat dan karakterisasi karakter yang digambarkan dengan sangat baik. Jadi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tidak semata-mata mengutamakan kisah romantis antar tokoh utamanya saja, seperti halnya beberapa film adaptasi lain.

Dengan mengambil setting kehidupan masyarakat Minang tahun 1930, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bercerita tentang seorang pemuda asal Makassar bernama Zainuddin (Herjunot Ali) yang kembali ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Tanah Datar, Minang. Bermaksud hendak mengenal tanah kelahiran ayahnya dan memperdalam ilmu agama tidak serta merta membuat Zainuddin diterima oleh penduduk setempat. Dikarenakan ibunya adalah seorang bugis dan Minang menganut sistem masyarakat matrilineal atau dari garis ibu, Zainuddin dianggap tidak memiliki kekerabatan apapun di tanah Minang.

vdw4

Berkenalan dengan seorang bunga desa kebanggaan Batipuh yang cantik parasanya bernama Hayati (Pevita Pearce), lalu saling jatuh cinta  menguatkan hati Zainuddin untuk menetap di Batipuh, meski perlakuan tidak menyenangkan sering ia terima dari masyarakat. Namun sekali lagi karena masalah kekerabatan, jalinan perasaan keduanya dianggap menjadi sesuatu yang tidak layak. Walaupun pada akhirnya Zainuddin diminta untuk pergi dari Batipuh ke Bukittinggi, Zainuddin dan Hayati berjanji untuk tetap saling mencintai.

“Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku.”

– Hayati

Cobaan besar datang ketika Hayati dipinang oleh Aziz (Reza Rahardian), seorang pemuda Minang yang berasal dari keluarga terpandang, yang dianggap lebih pantas bersanding dengan Hayati. Ditekan oleh tuntutan keluarga, berat hati Hayati memilih untuk menerima pinangan Aziz dan memutuskan hubungan dengan Zainuddin. Zainuddin yang patah hati memutuskan untuk pergi ke Jawa mengadu nasib sekaligus hendak melupakan Hayati. Ditemani oleh sahabatnya, Bang Muluk (Rendy Nidji), kemampuan menulis Zainuddin mengantarkannya menjadi seorang penulis yang terkenal dan bergelimangan materi. Namun garis takdir Zainuddin dengan Hayati ternyata belum terputus. Zainuddin bertemu kembali dengan Hayati yang kini telah menjadi istri Aziz.

vdw2 vdw3

Bangkrut dan tidak memiliki apa-apa lagi, Aziz meninggalkan Hayati di rumah Zainuddin lalu bunuh diri karena merasa tidak punya muka lagi. Sebelum meninggal, Aziz menulis sepucuk surat yang berisi talak cerai kepada Hayati dan pernyataan bahwa ia mengembalikan Hayati pada Zainuddin. Hayati yang masih mencintai Zainuddin memohon untuk dapat kembali pada pemuda itu. Namun sakitnya patah hati masih dirasakan oleh Zainuddin. Menolak menerima Hayati kembali, Zainuddin memintanya untuk kembali ke Batipuh dengan kapal Van Der Wijck.

 Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta Hayati..  2 bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati?

Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas. Siapakah di antara kita yang kejam Hayati? Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan tetapi akhirnya terbuang jauh ke Tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi anak  yang tertawa di muka ini tetapi menangis di belakang layar. Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal di rumahku untuk menunggu suamimu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan ku lepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk dihujan, tak lekang dipanas. Ongkos pulangmu akan saya beri. Demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu.
– Zainuddin
Singkat cerita, malang menimpa Hayati. Dalam perjalanan kembali ke Batipuh, kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Walau pada akhirnya sempat bertemu kembali, Hayati akhirnya meninggal di pelukan Zainuddin.
Film berdurasi 163 menit ini membuat saya terkagum-kagum dengan pemandangan cantik tanah Minang yang di-set tahun 1930-an. Penggunaan bahasa daerah oleh karakternya, walau sedikit banyak masih terdengar kaku, membawa saya seolah masuk dalam ceritanya. Apa yang saya pernah baca di novelnya, yang kemudian saya bayangkan di dalam benak saya, tidak terlalu berbeda dalam penggambarannya di film ini. Akting Pevita Pearce yang sebelumnya sempat saya ragukan, ternyata di luar ekspektasi saya cukup memuaskan. Herjunot Ali harus saya akui untuk di beberapa bagian cerita aktingnya sedikit berlebihan, namun ia berhasil menyampaikan emosi seorang Zainuddin dengan cukup baik. Sedangkan Reza Rahardian, jangan tanyakan lagi kualitas aktingnya.
Overall dari 5 bintang, saya berikan 4.5 untuk film ini.
Hidup perfilman Indonesia! Saya masih menantikan film Indonesia lain yang berkualitas seperti ini:)
Happy Watching, Guys!
“Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu-sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh ombak dan duri penghidupan”
– Hayati

Comic 8

et8mbq

Booming-nya Stand Up Comedy di Indonesia lewat acara Stand Up Comedy Indonesia yang ditayangkan di Kompas TV mungkin menjadi salah satu alasan film ini dibuat. Diperankan oleh sejumlah Comic (pelaku stand up comedy) lokal seperti Ernest Prakasa, Kemal Pahlevi, Babe Cabiita, Fico Fahriza, Mudy Taylor, Arie Kriting, Bintang Timur, Mongol Stres, film ini cukup memuaskan tanpa akting yang amat luar biasa dari pemain utamanya tadi. Pertama kali saya melihat trailernya, yang ada dalam pikiran saya adalah film ini bukan film komedi biasa. Comic 8 menawarkan komedi yang berbeda dari komedi biasanya.

Comic 8 bercerita tentang 3 kelompok penjahat yang secara kebetulan merampok bank yang sama dan di hari yang sama. Kelompok pertama yaitu The Amateurs berisi 3 orang amatir yaitu Babe, Bintang, dan Fico yang merampok karena ingin mengubah nasib. Kelompok kedua yaitu The Gangster yang beranggotakan 3 orang perampok profesional yaitu Ernest, Arie, dan Kemal. Dan yang terakhir The Freaks terdiri dari 2 orang aneh, Mudy dan Mongol yang merampok dengan tujuan menolong rakyat yang membutuhkan. Karena dikepung oleh polisi yang dipimpin oleh AKB Bunga (Nirina Zubir), 8 orang perampok ini mau tidak mau harus bekerja sama untuk menyelesaikan misi mereka dan menemukan jalan keluar dari bank.

Yang membuktikan kepada saya bahwa Film Comic 8 ini memang bukan film komedi biasa adalah plot nya yang menurut saya dirancang cukup apik dengan twist cerita yang berlapis di bagian akhirnya. Karena pada tengah-tengah cerita, saya sempat merasa “Ini film intinya apa sih?” sehingga timbul pemikiran “Yah, yang penting nih film bikin ngakak.” Namun ketika tiba di bagian akhir cerita, kalimat “Oooh, ternyata begituuu…” keluar dari mulut saya dibarengi dengan ekspresi puas. Tidak sia-sia saya membeli tiket film ini.

Selain plot-nya, saya suka bagaimana isu-isu yang sedang booming dan sindiran tajam mengenai sosial politik disampaikan dalam film ini. Sebut saja masalah Kemacetan Jakarta, Pemindahan Ibukota, Banjir, Acara TV Alay, Diskriminasi Ras, hingga isu Kejahatan Cuci Otak, dan masih ada beberapa isu lain, yang jika anda jeli akan anda tangkap dari film ini. Semuanya dilapisi dengan celetuk-celetukan satir antar tokoh satu dan tokoh lainnya. Efek yang bukan abal-abal lewat adegan tembak- tembakan dan gerakan slow motion di beberapa adegan film ini menjadi tambahan nilai plus untuk Comic 8. Seru dan menghibur.

Menarik bukan?

Jika berharap mendapatkan tontonan edukasi, jelas film ini bukanlah film yang tepat. Namun butuh kecerdasan dari penonton jika ingin menangkap maksud dari humor cerdas yang ditawarkan oleh film ini. Jika tidak, hanya kelucuan saja yang akan anda peroleh.

Penampilan Nikita Mirzani, Nirina Zubir, Indro ‘Warkop DKI’, Pandji Pragiwaksono, Boy William, Agung Hercules, Coboy Junior, Jeremy Teti, Kiki Fatmala, Hengky Solaiman, Ence Bagus, dan Leila Sari juga menambah pecah film yang dirilis tanggal 29 Januari 2014 lalu.

Saya tidak akan bercerita lebih panjang lagi, yang jelas dari 5 bintang saya beri 4 bintang untuk film ini.

Happy Watching, Guys!

PS : Jangan buru-buru lari ke kamar mandi setelah film selesai. Ditahan dulu untuk melihat credit title-nya. Sip?

“Tertawalah sebelum tertawa dilarang”

– Indro ‘Warkop D